Praise Update

PRAISE dan McKinsey.org meresmikan kerjasama baru untuk mengatasi tantangan sampah di Bali

Dunia menghasilkan 3,5 juta ton sampah padat setiap hari. Jumlah ini telah
meningkat 10 kali lipat dalam abad terakhir dan terus berkembang pesat,
namun upaya pendekatan yang dilakukan saat ini untuk daur ulang sampah
belum sepenuhnya dapat menjawab masalah tersebut. Kota-kota di seluruh
dunia tengah mencari cara mengatasi TPA yang meluap, serta dampak kesehatan
dan lingkungan dari sampah yang tidak dikumpulkan dan tidak diolah. Di
Indonesia, plastik, yang menyumbang 75% sampah laut dunia, mengancam
ekosistem laut dan industri pariwisata yang vital.

Dimulai di Bali, PRAISE dan McKinsey.org akan bersama-sama membangun sistem
pengelolaan sampah yang keekonomiannya berkelanjutan, dengan memaksimalkan
manfaat daur ulang dan lingkungan, menciptakan lapangan kerja dan
memberdayakan komunitas lokal, serta mempercepat transisi ke ekonomi
sirkular (circular economy).

Tujuan kerjasama ini meliputi pengoptimalan pengumpulan sampah, yaitu
dengan mengedukasi penduduk tentang pentingnya memilah sampah, meningkatkan
efisiensi fasilitas pemilahan TPS3R dengan pelatihan dan insentif, dan juga
memastikan kestabilan demand melalui kerjasama dengan
perusahaan-perusahaan pembeli yang berkomitmen untuk menggunakan bahan daur
ulang.

Bersama-sama, upaya pendekatan yang dikembangkan organisasi ini akan
meliputi keseluruhan sistem sampah dan daur ulang, untuk semua jenis sampah
dan siklusnya. Kerjasama ini akan menerapkan praktik terbaik ( best practice) yang dipelajari dari Indonesia dan dunia, termasuk
dari kesuksesan program-program serupa sebelumnya yang telah di lakukan di
Bali, yang pembelajarannya akan disertakan ke dalam rancangan sistem.

Kedua organisasi meyakini sepenuh hati bahwa kemitraan dan kolaborasi,
termasuk dukungan masyarakat lokal, pemerintah, organisasi nonprofit dan
perusahaan, berperan sangat penting dalam menyukseskan program ini. PRAISE
dan McKinsey.org berkomitmen untuk menciptakan solusi yang relevan secara
lokal bersama berbagai pemangku kepentingan yang terlibat.

Proyek percontohan pertama Desa Kedas (“Desa Bersih”) akan diresmikan di
Desa Sanur Kauh, Kota Denpasar, untuk mengembangkan konsep yang dapat
diterapkan, dengan maksud untuk nantinya dapat ditingkatkan secara aktif di
seluruh kota, Bali Selatan dan seterusnya. Program ini akan mendukung
komitmen pemerintah lokal dan nasional dalam meningkatkan pengelolaan
sampah dan mengurangi sampah laut.

Sinta Kaniawati, Direktur PRAISE, mengatakan:

“Komitmen kami adalah mengembangkan model kolaboratif untuk sistem
pengelolaan sampah, atau yang kami sebut ESR ( Extended Stakeholder Responsibility), untuk menciptakan
pengelolaan sampah padat di Indonesia yang lebih terintegrasi dan
berkelanjutan. Jadi, kami sangat senang bermitra dengan McKinsey.org dalam
rangka meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah melalui penelitian,
pendidikan, dan kerjasama antara pemangku kepentingan yang lebih luas. Kami
juga akan melibatkan masyarakat secara langsung untuk terus berperan peran
aktif menjadi agen perubahan positif bagi lingkungan. Kami percaya
kerjasama dengan McKinsey.org akan melipatgandakan dampak inisiatif kami,
yaitu Bali BERSIH, untuk membantu memecahkan masalah sampah.”

Shannon Bouton, Direktur Eksekutif Global, Sustainable Community di
McKinsey.org, mengutarakan:

“Hingga saat ini, jumlah sampah yang dimanfaatkan secara produktif masih
sangat sedikit. Kegiatan daur ulang masih terhambat proses yang tidak dapat
diandalkan dan pasokan yang buruk. Seringkali komunitas perkotaan yang
paling miskin yang paling terpengaruh oleh dampak perubahan iklim dan
polusi udara, air, dan tanah. Melalui kerjasama dengan PRAISE, kami ingin
merancang dan merevitalisasi kembali sistem daur ulang yang efektif di
Bali, untuk menjawab tantangan sampah yang dihadapi masyarakat di Bali dan
nantinya, dunia.”

 

McKinsey.org

Siddarth Shrikanth ( siddarth@mckinsey.org)

PRAISE

Gabrielle Johny (gabrielle.johny@tetrapak.com)

Mignonne Maramis ( mignonnemaramis@me.com)